Dalam
proses produksi, cara kerja atau tahap-tahapnya dibagi menjadi empat bagian, sebelum
pada pendistribusian atau penjualan.
Tahap pertama disebut dengan produksi awal, dimana langkah-langkahnya dimulai
dengan peng-ovenan kayu, pemotongan, jointer,
dan pembentukan. Pada tahap yang kedua disebut dengan finishing struktur,
dimana pekerjaan yang dilakukan di antaranya pengehalusan (pengamplasan) dan
pengecatan. Tahap yang ketiga adalah perakitan atau pembentukan bahan baku yang
telah difinishing menjadi barang jadi. Pada tahap yang ketiga ini juga
dilakukan yang namanya quality control,
sebelum masuk pada tahap yang keempat, yaitu tahap penyimpanan. Pada tahap
penyimpanan ini diawali dengan pembungkusan bahan produksi yang telah jadi
sebelum kahirnya dimasukkan ke gudang dan siap untuk didistribusikan atau
dijual.
Adapun
produk yang bisa dihasilkan dalam satu hari rata-ratanya bisa mencapai 20 unit
per hari, dan jumlah ini tergantung dengan tingkat kesulitan produk yang
dipesan. Jelas bahwa produk yang diproduksi, dalam hal bentuk atau konsepnya
tergantung pesanan dari pelanggang. Memprodiksi bahan-bahan mentah (yang
kebanyakan dari kayu mahoni) menjadi barang-barang jadi menggunakan mesin-mesin
sumbangan dari Palang Merah Jepang. Adapun bahan bakunya sebagian besar didapat
dari Wonosari. Perlu untuk diketahui juga bahwa produk yang dihasilkan
bermacam-macam dan bukan hanya yang terbuat dari bahan baku kayu seperti
puzzle, meja, kursi, mainan anak-anak, tetapi ada juga produk-produk yang
dihasilkan dari bahan bekas dan bahan baku lain (kain dan plastik) seperti
bantal, tas, dan aksesoros-aksesoris lainnya.
2. Hubungan antar pegawai, pegawai dengan
pimpinan, dan suasana kerja
Hasil
temuan di lapangan memperlihatkan hubungan antar pegawai, pertama karena
kesamaan penggolongan berdasarkan keunikan para pegawai. Dalam artian bahwa di
sini sebagaian besar pegawainya tergolong difabel. Didasarkan akan hal
tersebut, terlihat sekali hubungan kekeluargaan di antara para pegawai. Hal ini
dapat dilihat dari suasana kerja yang ada,
yang mana di saat kerja biasanya diselingi dengan gurauan-gurauan kecil di
antara mereka, walaupun keseriusan dapat dijaga. Selain itu, ibarat pekerjaan
yang dispesialisasikan, para pegawai akan dikelompokkan menjadi beberapa bagian
yang saling berhubungan untuk satu tujuan produksi. Pengelompokkan ini juga
disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing pegawai, dengan alasan bahwa
antara kondisi fisik dan spesialisasi kerja harus disesuaikan, sehingga dengan
kondisi fisiknya yang terbatas mampu untuk menyelesaikan pekerjaan yang
ditugaskan.
Kemudian
hubungan pegawai dengan pimpinan juga hampir sama dengan hubungan antar
pegawai. Kebetulan, pimpinan sekaligus pendiri Mandiri Craft ini juga
digolongkan sebagai orang yang difabel. Namun bedanya, dalam pekerjaannya,
hubungannya dengan pegawai yang ada di bawahnya lebih pada pengawasan kerja
sekaligus memberikan pengarahan-pengarahan langsung yang bersifat teknis. Tidak
ada kesewengan antara pimpinan dengan pegai-pegawai dibwahnya, sebab mereka
telah diikat dengan hubungan kekeluargaan karean kesamaan kondisi fisik, dalam
arti sama-sama difabel.
3. Sistem penggajian
Penggajian pegawai dilaku setiap
satu bulan sekali di luar bonus, dan upah atau gaji yang diterima para pegawai
juga sebenarnya masih di bawah upah minimum regional (UMR) karena manajemen
keuangannya lebih disesuaikan pada hasil yang mampu diproduksi dalam satu
bulan. Kemudian mengenai bonus, ini
biasanya diberikan pada saat menjelang hari raya besar agama atau istilah
umumnya tunjangan hari raya (THR). Penggajian ini dilakukan pada saat rapat
umum Mandiri Craft, dan pada kesempatan ini juga akan disampaikan kebijakan
dari pimpinan dan penyampaian kebutuhan, unek-unek,
dan lain-lain dari para pegawai kepada pimpinannya.
No comments:
Post a Comment