Friday, 4 December 2015

LAPORAN KUNJUNGAN KE MANDIRI CRAFT YOGYAKARTA

1. Produktifitas

Dalam proses produksi, cara kerja atau tahap-tahapnya dibagi menjadi empat bagian, sebelum pada pendistribusian atau penjualan. Tahap pertama disebut dengan produksi awal, dimana langkah-langkahnya dimulai dengan peng-ovenan kayu, pemotongan, jointer, dan pembentukan. Pada tahap yang kedua disebut dengan finishing struktur, dimana pekerjaan yang dilakukan di antaranya pengehalusan (pengamplasan) dan pengecatan. Tahap yang ketiga adalah perakitan atau pembentukan bahan baku yang telah difinishing menjadi barang jadi. Pada tahap yang ketiga ini juga dilakukan yang namanya quality control, sebelum masuk pada tahap yang keempat, yaitu tahap penyimpanan. Pada tahap penyimpanan ini diawali dengan pembungkusan bahan produksi yang telah jadi sebelum kahirnya dimasukkan ke gudang dan siap untuk didistribusikan atau dijual.

Adapun produk yang bisa dihasilkan dalam satu hari rata-ratanya bisa mencapai 20 unit per hari, dan jumlah ini tergantung dengan tingkat kesulitan produk yang dipesan. Jelas bahwa produk yang diproduksi, dalam hal bentuk atau konsepnya tergantung pesanan dari pelanggang. Memprodiksi bahan-bahan mentah (yang kebanyakan dari kayu mahoni) menjadi barang-barang jadi menggunakan mesin-mesin sumbangan dari Palang Merah Jepang. Adapun bahan bakunya sebagian besar didapat dari Wonosari. Perlu untuk diketahui juga bahwa produk yang dihasilkan bermacam-macam dan bukan hanya yang terbuat dari bahan baku kayu seperti puzzle, meja, kursi, mainan anak-anak, tetapi ada juga produk-produk yang dihasilkan dari bahan bekas dan bahan baku lain (kain dan plastik) seperti bantal, tas, dan aksesoros-aksesoris lainnya.

2. Hubungan antar pegawai, pegawai dengan pimpinan, dan suasana kerja

Hasil temuan di lapangan memperlihatkan hubungan antar pegawai, pertama karena kesamaan penggolongan berdasarkan keunikan para pegawai. Dalam artian bahwa di sini sebagaian besar pegawainya tergolong difabel. Didasarkan akan hal tersebut, terlihat sekali hubungan kekeluargaan di antara para pegawai. Hal ini dapat dilihat dari suasana kerja yang ada,  yang mana di saat kerja biasanya diselingi dengan gurauan-gurauan kecil di antara mereka, walaupun keseriusan dapat dijaga. Selain itu, ibarat pekerjaan yang dispesialisasikan, para pegawai akan dikelompokkan menjadi beberapa bagian yang saling berhubungan untuk satu tujuan produksi. Pengelompokkan ini juga disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing pegawai, dengan alasan bahwa antara kondisi fisik dan spesialisasi kerja harus disesuaikan, sehingga dengan kondisi fisiknya yang terbatas mampu untuk menyelesaikan pekerjaan yang ditugaskan.

Kemudian hubungan pegawai dengan pimpinan juga hampir sama dengan hubungan antar pegawai. Kebetulan, pimpinan sekaligus pendiri Mandiri Craft ini juga digolongkan sebagai orang yang difabel. Namun bedanya, dalam pekerjaannya, hubungannya dengan pegawai yang ada di bawahnya lebih pada pengawasan kerja sekaligus memberikan pengarahan-pengarahan langsung yang bersifat teknis. Tidak ada kesewengan antara pimpinan dengan pegai-pegawai dibwahnya, sebab mereka telah diikat dengan hubungan kekeluargaan karean kesamaan kondisi fisik, dalam arti sama-sama difabel.

3. Sistem penggajian

Penggajian pegawai dilaku setiap satu bulan sekali di luar bonus, dan upah atau gaji yang diterima para pegawai juga sebenarnya masih di bawah upah minimum regional (UMR) karena manajemen keuangannya lebih disesuaikan pada hasil yang mampu diproduksi dalam satu bulan.  Kemudian mengenai bonus, ini biasanya diberikan pada saat menjelang hari raya besar agama atau istilah umumnya tunjangan hari raya (THR). Penggajian ini dilakukan pada saat rapat umum Mandiri Craft, dan pada kesempatan ini juga akan disampaikan kebijakan dari pimpinan dan penyampaian kebutuhan, unek-unek, dan lain-lain dari para pegawai kepada pimpinannya.






No comments:

Post a Comment