https://www.srikujam.com
INTERDISIPLINER
Dunia yang plural sekaligus multikultural perlu kepedulian manusia yang beradab. Ciri manusia beradab salah satunya dari kemampuannya mengembangkan ilmu pengetahuan. Melalui ilmu yang interdisipliner inilah dunia perlu untuk dibangun sekaligus diperdulikan untuk terus dirawat sebaik mungkin.
Thursday, 4 August 2022
Friday, 4 December 2015
OTORITAS DAN KEKUASAAN DALAM ORGANISASI BIROKRATIS
MENGACU PADA PEMIKIRAN MAX WEBER
Prolog
Dewasa ini, kekuasaan sering kali digunakan sebagai alat untuk mencapai berbagai tujuan, baik itu untuk tujuan bersama maupun untuk tujuan pribadi. Dalam hal mencapai tujuan, kekuasaan selalu identik dengan pengaruh yang salah satunya didasarkan pada posisi pada struktur. Adapun yang menjadi pusat perhatian di sini adalah kekuasaan dalam sebuah organisasi, dimana kekuasaan yang dimaksud berupa otoritas formal yang dimiliki oleh pemegang kekuasaan dalam hal posisinya pada struktur. Kekuasaan di sini dilandaskan pada posisi atau kedudukan dalam struktur organisasi, yang berkaitan dengan cara memperoleh kedudukan, tugas berdasarkan kedudukannya dalam struktur, dan tentunya berpengaruh terhadap kewenangan atau otoritas berdasarkan kedudukan tersebut.
Dalam dunia modern seperti sekarang ini, seluruh negara mengembangkan sistem manajemen birokratis dimana elemen-elemen dari sitem tersebut diatur berdasarkan khaidah hukum atau ketentuan administratif. Selain itu, prinsip hierarki jabatan dan tingkat-tingkat kewenangan dan manajemen jabatan yang sangat terspesialisasi memainkan peranan penting dalam organisasi birokratis. Organisasi birokratis yang sengaja dipinjam dari istilah Weber ini akan menjadi acuan dalam melihat otoritas yang berfat formal di dalam organisasi ini (borokratis). Otoritas formal ini akan ditinjau berdasarkan kekuasaan yang dimiliki dalam organisasi birokratis ini, terkait hubungan antara kekusaan itu sendiri dengan otoritas tersebut.
Kekuasaan dan otoritas merupakan dua istilah yang saling berkaitan di dalam organisasi, dimana hubungan timbal balik di antara keduanya tergolong sangat dapat dilihat. Alasanya, kekuasaan merupakan kemampuan mempengaruhi didasarkan, salah satunya pada otoritas, sedangkan otoritas itu sendiri merupakan kemampuan mempengaruhi hanya sebatas pada posisi atau kedudukan dalam sebuah struktur. Ini berarti mampu memberikan batasan bagi kita dalam melihat cakupan pengaruh dari kekuasaan dan otoritas itu sendiri. Kekuasaan bersifat lebih luas dan otoritas boleh dibilang sempit dalam hal mempengaruhi.
Tentu saja, kekuasaan bukan hanya didasarkan pada posisi dalam sebuah struktur, tetapi juga karena faktor-faktor lain seperti kemampuan ekonomi, otoritas, peran dalam sebuah organisasi, dan lain-lain. Sedangkan otoritas hanya didasarkan pada posisi dalam sebuah struktur, sehingga otoritas itu sendiri merupakan hanya salah satu bagian dari kekuasaan. Singkatnya, kita mencoba melihat kekuasaan melaui otoritas dalam sebuah struktur organisasi guna menjalankan peran dan fungsinya untuk mencapai suatu tujuan yang ingin dicapai. Artinya kekuasaan yang dimaksud dibatasi pada otoritas sebagai instrumenya untuk tujuan tertentu atau yang ingin dicapai serta kinerja yang ada di dalamnya.
Dari uraian-uraian di atas, kami tertarik untuk melihat lebih dalam mengenai Otoritas dan Kekuasaan dalam Organisasi Birokratis. Perlu juga untuk dibatasasi, agar cakupan ini jelas, yang dimaksud dari organisasi birokratis di sini adalah mengikuti apa yang telah dikarakteristikkan oleh Weber dalam teori birokrasinya. Artinya, organisasi birokratis akan dibahas secara umum berdasarkan karakteristik yang kebanyakan direduksi oleh negara-negara moderen kontemporer, paling tidak hingga abad ke-21 ini.
Kerangka Teoritis
Definisi kekuasaan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, susunan WJS. Poerwadarminta, “kuasa” berarti kemampuan atau kesanggupan untuk berbuat sesuatu; kewenangan atas sesuatu atau untuk menentukan sesuatu. Sedangkan kekuasaan berarti kuasa untuk mengurus atau memerintah; kemampuan; kesanggupan dan kekuatan.
Sedangkan definisi yang lain dari kekuasaan adalah kemampuan atau wewenang untuk menguasai orang lain, memaksa dan mengendalikan mereka sampai mereka patuh, mencampuri kebebasannya dan memaksakan tindakan-tindakan dengan cara-cara yang khusus (Windhu, 1992: 32).
Kebanyakan teoritisi sosiologi mendefinisikan kekuasaan dalam pengertian yang lebih sempit, sebagai suatu jenis hubungan yang khas di antara para objek antara pribadi-pribadi dengan kelompok. Kemudian Blau mendefinisikan kekuasaan sebagai kemampuan seseorang atau kelompok orang untuk memaksakan keinginannya pada yang lain meski dengan kekuatan penangkal, baik dalam bentuk pengurangan secara tetap ganjaran-ganjaran yang disediakan maupun dalam bentuk hukuman, keduanya sama bersifat negatif (Martin, 1977).
Birokrasi menurut Weber adalah unit sosial yang memiliki tujuan, struktur hierarki, dan aturan/prosedur yang jelas. Organisasi birokrasi hadir dengan tujuan untuk melayani kepentingan publik. Struktur hierarki organisasi tersebut terdiri dari bagian-bagian yang dimaksudkan untuk memperjelas peran, kewenangandan tanggungjawab masing-masing bagian. Aturan/prosedur dalam birokrasi menjamin setiap bagian agarberfungsi sebagaimana mestinya. Jadi, setiap peran, kewenangan (otoritas) dan tanggungjawab dalam birokrasi melekat pada jabatan tertentu.
Teori kekuasaan, terutama yang berhubungan langsung dengan organisasi birikratis merupakan teori yang dibahas oleh Max Weber. Teori kekuasaan Weber ini memuat bahasan-bahasan penting terutama mengenai struktur kekuasaan, stratifikasi sosial (kelas, status, dan partai), dan birokrasi. Beberapa hal tersebut akan menjadi tolak ukur atau landasan pemikiran menyeluruh dalam membahas tentang kekuasaan dalam organisasi birokratis. Ini berarti akan mengadopsi sedikit dari bahasan tentang stratifikasi sosial dan selebihnya dilandaskan pada teori birokrasi.
Dalam teori kekuasaan Weber, terlebih dalam bahasannya mengenai stratifikasi sosial, yang terbagi menjadi tiga dimensi, yaitu kelas, status, dan partai, Weber memandang keuasaan sebagai kesempatan bagi seseorang atau sekumpulan orang untuk mewujudkan kehendak mereka dalam suatu tindakan komunal bahkan jika tindakan itu ditujukan untuk mengatasi perlawanan pihak lain yang berpartisipasi dalam tindakan itu. Namun Weber juga mengatakan bahwa kekuasaan yang terkondisikan secara ekonomi tidak identik dengan kekuasaan yang dimaksud. Kemudian bila kekuasaan dilihat dalam ranah birokrasi, akan banyak hal yang terkait otoritas maupun pengaruh kekuasaan tersebut dalam organisasi ini (birokratis).
Organisasi Birokratis
Organisasi merupakan sekelompok orang – dua orang atau lebih - yang secara formal dipersatukan dalam suatu kerjasama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Menurut James D. Mooney, organisasi adalah bentuk setiap perserikatan manusia untuk mencapai tujuan bersama.
Birokratis sendiri merupakan istilah yang disebut Weber dalam teori kekuasaanya. Untuk mengidentifikasi istilah birokratis ini, sangat perlu melihat karakteristik dari birokrasi sendiri yang merupakan asal katanya. Karakteristik birokrasi modern dilihat berdasarkan fungsi dalam cara-cara spesifik seperti berikut:
- Terdapat prinsip area yurisdiksional yang sudah ditetapkan secara resmi, yang secara umum diatur dengan kaidah hukum dan ketentuan administratif.
- Prinsip-prinsip hierarki jabatan dan tingkat-tingkat kewenangan berjenjang yang tertata rapi dimana berlaku pengawasn terhadap jabatan rendah oleh jabatan yang lebih tinggi.
- Manajemen jabatan modern didasarkan pada dokumen-dokumen tertulis (berkas), yang disimpan dalam bentuk aslinya atau draft.
- Manajemen jabatan, setidaknya manajemen jabatan yang terspesialisasi biasanya mengandaikan pelatihan yang sangat cermat dan ahli.
- Ketika jabatan sudah sepenuhnya dikembangkan, aktivitas resmi menuntut kapasitas kerja penuh pegawai tanpa mengindahkan fakta bahwa waktu wajibnya di biro mungkin sangat terbatas.
- Manajemen jabatan mengikuti aturan-aturan umum, yang sedikit banyaknya stabil, menyeluruh, dan bisa dipelajari.
Setelah menetahui arti dari organiasi dan melihat karakteristik birokrasi tersebut di atas, dapat dipahami bahwa organisasi birokratis merupakan sistem atau struktur sosial yang secara teknis tersusun berdasarkan enam karakteristik birokrasi tersebut di atas. Pada umumnya, organisasi birokratis berorientasi pada ketepatan, kecepatan, ketegasan, pengetahuan untuk menangani berkas, kesinambungan, diskresi, kesatuan, subordinasi ketat, reduksi friksi dan reduksi ongkos personal. Jika dibandingkan dengan semua bentuk administrasi yang bersifat collegiate, kehormatan, dan sekedar hobi, birokrasi terlatih lebih unggul dalam semua segi atau orientasi di atas.
Birokratisasi terutama menawarkan segala macam kemungkinan optimal untuk melaksanakan prinsip spesialisasi fungsi-fungsi administratif menurut pertimbangan yang objektif. Kinerja individual dialokasikan bagi para fungsionaris yang telah menjalani pelatihan spesialiasasi dan yang secara tetap belajar secara terus menerus. Pelaksanaan “objektif” suatu urusan artinya bahwa pelaksaan urusan tersebut menurut ketentuan yang bisa diperhitungkan dan tanpa memandang sosk orang perorang.
Ketika sepenuhnya mapan, birokrasi merupakan salah satu struktur sosial yang paling sukar dihancurkan. Birokrasi adalah alat untuk mengubah “aksi komunikasi” menjadi “aksi sosial” yang tertata secara rasional. Dengan demikian, sebagai sebuah instrumen bagi “sosialisasi” hubungan kekuasaan, dahulu maupun sekarang birokrasi merupakan sebuah instrumen kekuasaan nomor satu – bagi siapa yang mengontrol aparatus birokrasi (Max Weber, 1921).
Sudah cukup jelas bahwa organisasi birokratis merupakan suatu struktur sosial, terlebih struktur politik, bisa dan secara reguler memang memiliki konsekuensi ekonomi yang luas. Konsekuensi birokrasi bergantung pada arah yang diberikan kekuasaan pada aparatus yang digunakan.
Ketika sepenuhnya mapan, birokrasi merupakan salah satu struktur sosial yang paling sukar dihancurkan. Birokrasi adalah alat untuk mengubah “aksi komunikasi” menjadi “aksi sosial” yang tertata secara rasional. Dengan demikian, sebagai sebuah instrumen bagi “sosialisasi” hubungan kekuasaan, dahulu maupun sekarang birokrasi merupakan sebuah instrumen kekuasaan nomor satu – bagi siapa yang mengontrol aparatus birokrasi (Max Weber, 1921).
Sudah cukup jelas bahwa organisasi birokratis merupakan suatu struktur sosial, terlebih struktur politik, bisa dan secara reguler memang memiliki konsekuensi ekonomi yang luas. Konsekuensi birokrasi bergantung pada arah yang diberikan kekuasaan pada aparatus yang digunakan.
Otoritas dan Kekuasaan dalam Organisasi Birokratis
Kekuasaan memang mudah dipahami secara intuitif, tetapi jarang didefinisikan. Sebab, tidak mungkin mendefinisikan kekuasaan itu secara tepat tanpa kita akan kehilangan arti yang sesungguhnya dari istilah tersebut. Namun secara umum, kekuasaan sepertinya mengacu pada pengaruh, otoritas, paksaan, dan kepatuhan. Kekuasaan dalam organisasi birokratis sendiri pada umumnya bersifat hierarkis, di antaranya didaperoleh berdasakan jabatan atau kedudukan, serta tidak bersifat otoriter. Seseorang yang menduduki jabatan dalam organisasi birokratis disebut pegawai, yang mana jabatan ini menuntut kapasitas kerja jangka panjang. Lebih dari itu, posisi pegawai adalah sesuatu yang alamiah dalam sebuah tugas. Posisi ini menentukan struktur internal hubungan-hubungannya dengan cara-cara legal dan aktual.
Dalam struktur organisasi birikratis, terlepas dari berbagai pengaruh seperti politik misalnya, otoritas akan sangat jelas jalurnya. Jalur otoritas atau kewenangan ini bersifat top-down berdasarkan jenjang atau tingkat jabatannya, dan ini ada kaitannya dengan sebuah otoritas dsi dalamnya. Pegawai yang menempati posisi atasan memiliki otoritas terhadap pejabat di bawahnya secara struktural, namun hanya sebatas tugas-tugas tertentu yang sangat terspesialisasi dan menurut aturan-aturan legal di dalamnya, serta ketentuan-ketentuan hukum yang ada. Otoritas menjadi kunci utama terhadap kekuasaan dalam organisasi birokratis perihal kerja organisasi yang terspesialisasi. Pengaruh yang diterapkan dari atasan kepada bawahan, diatur sedemikian rupa oleh sistem yang sangat ketat, sehingga otoritas atasan bukan berdasakan tujuannya pribadi tetapi dikontrol oleh aturan-aturan yang legal-formal, berdasarkan administratif, dan mengacu pada hukum.
Umumnya, dalam organisasi birokratis otoritas merupakan diferensial dari kekuasaan secara garis besar. Dengan kata lain, kekuasaan yang bersifat teknis dipersempit menjadi sebuah otoritas. Di sini kita tidak membicarakan kekuasaan-kekuasaan birokrasi yang bersifat eksternal, namun lebih melihat kekuasaan itu di dalam struktur birokrasi. Walaupun istilah kekuasaan dan otoritas sangat berbeda, tapi dalam hal ini hnampir disamakan. Alasannya bahwa dalam organisasi birokratis yang ideal, pemangku jabatan tertinggi memiliki kuasa terhadap jabatan yang lebih rendah. Namun, kuasa yang dimaksud tidak bersifat mutlak, walaupun di dalamnya ada juga hak prerogatif dari “penguasa” dan ini dikarenakan kuasa ataupun hak prerogatif yang dimaksud telah ditentukan secara legal-formal melalui aturan-aturan hukum.
Menurut Weber, di dalam pemerintahan publik dan sah, ada tiga (3) elemen otoritas birokratis. Pertama, aktifitas reguler yang diperlukan bagi tujuan-tujuan struktural yang diatur secara birokratis didistribusikan dalam sebuah cara tertentu sebagai tugas-tugas resmi. Kedua, otoritas untuk memberikan perintah yang dibutuhkan untuk emnjalankan tugas-tugas tersebut didistribusikan dalam suatu cara dan sangat dibatasi oleh peraturan-peraturan mengenai alat-alat pemaksaan fisik, secara keagamaan atau lainnya, yang dimiliki oleh pegawai. Ketiga, perangkat metodis dibuat bagi pemenuhan reguler dan berkelanjutan tugas-tugas tersebut dan bagi pelaksaan hak-hak terkait; hanya orang yang mempunyai kualifikasi (yang ditentukan secara umum) untuk bertugas saja yang dipekerjakan.
Dengan demikian, kami coba memberikan pandangan bahwa kekuasaan dan otoritas “dalam” organisasi birokratis, dimana terlihat dari pejabat yang lebih tinggi mempengaruhi pejabat di bawahnya, hampir disamakan. Otoritas merupakan turunan dari kekuasaan, yang mana dalam menjalankan sebuah kekuasaan dalam organisasi birokratis hanya ditempuh melalui kedudukan dalam struktur organisasi. Idelanya, kekuasaan dalam organisasi birokratis tidak terintimidasi pada kepentingan-kepentingan pribadi, tetapi demi tercapainya tujuan bersama yang telah ditentukan sebelum-sebelumnya.
LAPORAN KUNJUNGAN KE MANDIRI CRAFT YOGYAKARTA
Dalam
proses produksi, cara kerja atau tahap-tahapnya dibagi menjadi empat bagian, sebelum
pada pendistribusian atau penjualan.
Tahap pertama disebut dengan produksi awal, dimana langkah-langkahnya dimulai
dengan peng-ovenan kayu, pemotongan, jointer,
dan pembentukan. Pada tahap yang kedua disebut dengan finishing struktur,
dimana pekerjaan yang dilakukan di antaranya pengehalusan (pengamplasan) dan
pengecatan. Tahap yang ketiga adalah perakitan atau pembentukan bahan baku yang
telah difinishing menjadi barang jadi. Pada tahap yang ketiga ini juga
dilakukan yang namanya quality control,
sebelum masuk pada tahap yang keempat, yaitu tahap penyimpanan. Pada tahap
penyimpanan ini diawali dengan pembungkusan bahan produksi yang telah jadi
sebelum kahirnya dimasukkan ke gudang dan siap untuk didistribusikan atau
dijual.
Adapun
produk yang bisa dihasilkan dalam satu hari rata-ratanya bisa mencapai 20 unit
per hari, dan jumlah ini tergantung dengan tingkat kesulitan produk yang
dipesan. Jelas bahwa produk yang diproduksi, dalam hal bentuk atau konsepnya
tergantung pesanan dari pelanggang. Memprodiksi bahan-bahan mentah (yang
kebanyakan dari kayu mahoni) menjadi barang-barang jadi menggunakan mesin-mesin
sumbangan dari Palang Merah Jepang. Adapun bahan bakunya sebagian besar didapat
dari Wonosari. Perlu untuk diketahui juga bahwa produk yang dihasilkan
bermacam-macam dan bukan hanya yang terbuat dari bahan baku kayu seperti
puzzle, meja, kursi, mainan anak-anak, tetapi ada juga produk-produk yang
dihasilkan dari bahan bekas dan bahan baku lain (kain dan plastik) seperti
bantal, tas, dan aksesoros-aksesoris lainnya.
2. Hubungan antar pegawai, pegawai dengan
pimpinan, dan suasana kerja
Hasil
temuan di lapangan memperlihatkan hubungan antar pegawai, pertama karena
kesamaan penggolongan berdasarkan keunikan para pegawai. Dalam artian bahwa di
sini sebagaian besar pegawainya tergolong difabel. Didasarkan akan hal
tersebut, terlihat sekali hubungan kekeluargaan di antara para pegawai. Hal ini
dapat dilihat dari suasana kerja yang ada,
yang mana di saat kerja biasanya diselingi dengan gurauan-gurauan kecil di
antara mereka, walaupun keseriusan dapat dijaga. Selain itu, ibarat pekerjaan
yang dispesialisasikan, para pegawai akan dikelompokkan menjadi beberapa bagian
yang saling berhubungan untuk satu tujuan produksi. Pengelompokkan ini juga
disesuaikan dengan kondisi fisik masing-masing pegawai, dengan alasan bahwa
antara kondisi fisik dan spesialisasi kerja harus disesuaikan, sehingga dengan
kondisi fisiknya yang terbatas mampu untuk menyelesaikan pekerjaan yang
ditugaskan.
Kemudian
hubungan pegawai dengan pimpinan juga hampir sama dengan hubungan antar
pegawai. Kebetulan, pimpinan sekaligus pendiri Mandiri Craft ini juga
digolongkan sebagai orang yang difabel. Namun bedanya, dalam pekerjaannya,
hubungannya dengan pegawai yang ada di bawahnya lebih pada pengawasan kerja
sekaligus memberikan pengarahan-pengarahan langsung yang bersifat teknis. Tidak
ada kesewengan antara pimpinan dengan pegai-pegawai dibwahnya, sebab mereka
telah diikat dengan hubungan kekeluargaan karean kesamaan kondisi fisik, dalam
arti sama-sama difabel.
3. Sistem penggajian
Penggajian pegawai dilaku setiap
satu bulan sekali di luar bonus, dan upah atau gaji yang diterima para pegawai
juga sebenarnya masih di bawah upah minimum regional (UMR) karena manajemen
keuangannya lebih disesuaikan pada hasil yang mampu diproduksi dalam satu
bulan. Kemudian mengenai bonus, ini
biasanya diberikan pada saat menjelang hari raya besar agama atau istilah
umumnya tunjangan hari raya (THR). Penggajian ini dilakukan pada saat rapat
umum Mandiri Craft, dan pada kesempatan ini juga akan disampaikan kebijakan
dari pimpinan dan penyampaian kebutuhan, unek-unek,
dan lain-lain dari para pegawai kepada pimpinannya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
