Thursday, 27 November 2008

KAYU

Kayu merupakan bahan yang berasal dari pohon yang ditebang, kemudian dipotong dan digergaji sesuai panjang dan ukuran yang dibutuhkan. Ada dua jenis kayu, yaitu kayu bergelang tahun yang susunannya atau lapisannya terdiri dari kulit kayu, kayu luar(lunak), kayu dalam(keras), dan hati. Dan kayu berserat (glugu) yang lapisannya terdiri dari kulit kayu, kayu luar yang keras dan penuh serat, dan kayu dalam yang lunak. Selain memiliki jenis, kayu juga memiliki berbagaimacam sifat. Di antaranya adalah sifat fisik, sifat kimia, dan sifat mekanik.

Sifat Fisik
  • kayunya kembang susut
  • higrokopus, yaitu dapat menyerap air dan dapat menyimpannya dalam waktu dekat
  • dapat terbakar dan menjalarkan api
  • mempunyai sifat-sifat motif permukaan yang khas dan alami
  • merupakan peredam yang baik
  • mempunyai aroma yang khas
Sifat Mekanik
  • kekuatan arah serat besar
  • kualitas/kekuatan/keawetan kayu tergantung dari usia, jenis, dan tempat di mana pohon itu tumbuh
Sifat Kimia Kayu
  • unsur karbohidrat yang terdiri dari selulosa dan hemiselulosa
  • unsur non karbohidrat (lignin)
  • usur yang diendapkan selama proses pertumbuhan pohonnya (zat ekstraktif)
Faktor Perusak Kayu

Dari pohonnya sendiri
  1. cacat pada permukaan
  2. mata kayu tersebut
Faktor biologis
  1. Serangga : kumbang, kleret tahun, cacing dan rayap
  2. Mikrobio : jamur dan bakteri
  3. Binatantg air : kerang, kepiting, cacing laut
  4. Manusia
Faktor non biologis
  1. Mekanik : pembebanan, pukulan, gesekan, benturan
  2. Api : kebakaran
  3. Alam : cuaca (panas dan hujan dapat menyebabkan pelapukan)

Pengawetan Kayu
1. Pengawetan tradisional
Yaitu dengan cara mengeluarkan unsur karbohidratdari dalam kayu yang bisa dilakukan dengan rendaman (dalam air atau air mengalir). Prosesnya berkisar antara 3 - 6 bulan.
2. Pengawetan buatan
Dengan cara memasukkan racun (obat pengawet) ke dalam kayu, sehingga makanan tercemar dan hewan pemakan kyu tidak suka lagi.
Obat Pengawet
1. Obat pengawet yang larut dengan air
  • daya racun rendap
  • ti9dak mengotori kayu
  • kayu dapat difinishing
  • obat dapat larut bila terkena air atau hujan
  • penetrasi obat mudah
  • cara pengawetan mudah
2. Obat pengawet dengan minyak
  • kayu yang akan diawetkan harus kering atau tidak mengandung air di dalamnya
  • baunya kurang sedap
  • dapat mengotori permukaan kayu
  • daya racunnya sedang
  • sulit difinishing
  • rentokil, dealidrien, pentha chlor phene (PCP)

3. Obat pengawet berupa minyak
  • daya racun sangat tinggi
  • hanya boleh dilakukan di pabrik yang jauh dari pemukiman penduduk
  • hanya untuk konstruksi berat di luar hujan
  • creosot, nepthaline
Cara Pengawetan

1. Penyemprotan dengan sprayer dan pemolesan dengan kuas
  • obat dioleskan atau disemprot di luar permukaan kayu
  • penetrasi kurang
  • dapat diulang beberapa kali
2. Pencelupan
  • kayu dimasukkan ke dalam bak yang sudah diisi obat pengawet
  • butuh beberapa menit bahkan beberapa jam
  • obat pengawet dapat digunakan berulang kali
3. Rendaman : umumnya seperti pencelupan, namun wktunya lebih lama.

4. Cara pengawetan khusus
  • relatif lebih cepat
  • butuh investasi
  • di kota-kota besar digunakan untuk produksi pengawetan massal

Sunday, 2 November 2008

MENGENAL SUMBER-SUBER AIR

Air diperlukan pada pembuatan beton untuk memicu proses kimiawi semen, membasahi agregat dan memberikan kemudahan dalam pekerjaan beton. Air yang dapat diminum umumnya dapat digunakan sebagai campuran beton. Air yang mengandung senyawa-senyawa yang berbahaya, yang tercemar garam, minyak, gula, atau bahan kimia lainnya, bila dipakai dalam campuran beton akan menurunkan kualitas beton, bahkan dapat mengubah sifat-sifat brton yang dihasilkan.

SUMBER-SUMBER AIR
Air yang digunakan dapat berupa air tawar (dari sungai, danau, telaga, kolam, situ, dan lainnya), air laut maupun air lembah, asalkan memenuhi syarat mutu yang telah ditetapkan. Air tawar yang dapat diminum umumnya dapat digunakan sebagai campuran beton. Air laut umumnya mengandung 3,5% larutan garam (sekitar 78% adalah sodium klorida dan 15% adalah magnesium klorida). Garam-garaman dalam air laut ini akan mengurangi kualitas beton hingga 20%. Air laut tidak boleh digunakan sebagai bahan campuran beton pra-tegang ataupun beton bertulang karena resiko terhadap karat lebih besar. Air buangan industri yang mengandung asam alkali juga tidak boleh digunakan. Singkatnya, sumber-sumber air yang ada adalah sebagai berikut :

1. Air yang Terdapat di Udara
Adalah air yang terdapat di atmosfir atau awan. Kemurnian air ini sangat tinggi. Sayangnya, hingga sekarang belum ada teknologi untuk mendapatkan air atmosfir ini secara mudah. Air yang terdapat dalam atmosfir ini kondisinya sama dengan air suling, sehingga sangat mungkin untuk mendapatkan beton yang baik dengan air ini.
2. Air Hujan
Air hujan menyerap gas-gas serta uap dari udara ketika jatuh ke bumi. Udara terdiri dari komponen-komponen utama yaitu zat asam atau oksigen, nitrogen dan karbondioksida. Bahan-bahan padat serta garam yang larut dalam air hujan terbetuk akibat peristiwa kondensasi.
3. Air Tanah
Air tanah terdiri dari unsur kation dan unsur anion, serta pada kadar yang lebih rendah terdapat juga unsur Fe, Mn, Al, B, F, dan Se. Disamping itu air tanah juga menyerap gas-gas serta bahan-bahan organik seperti CO2, H2O, H2S dan NH3.
4. Air Permukaan
Air permukaan dibagi menjadi air sungai, air danau dan situ, air genangan dan reservoir. Erosi yang disebabkan oleh aliran air permukaan, membawa serta bahan-bahan organik dan mineral-mineral. Air sungai atau air danau dapat digunakan sebagai bahan campuran beton asal tidak tercemar air buangan industri. Air rawa-rawa atau air genangan tidak dapat digunakan sebagai bahan campuran beton, kecuali setelah melalui pengujian kualitas air.
5. Air Laut
Air laut yang mengandung 30.000 - 36.000 mg garam per liter (3% - 3,6%) pada umumnya dapat digunakan sebagai campuran untuk beton tidak bertulang, beton pra-tegang dan beton pra-tekan atau dengan kata lain untuk beton-beton mutu tinggi.
Air asin yang terdapat di pedalaman mengandung 1000-5000 mg garam per liter. Air dengan kadar garam sedang, mengandung 2000-10000 mg garam per liter. Air di daerah pantai, memiliki kadar garam sekitar 20000-30000 mg per liter.

Air laut tidak boleh digunakan untuk pembuatan beton pra-tegang atau pra-tekan, karena batang-batang baja pra-tekan langsung berhubungan dengan betonnya. Air laut sebaiknya tidak digunakan untuk beton yang ditanami aluminium di dalamnya, beton yang memakai tulangan atau yang mudah mengalami korosi pada tulangnya akibat perubahan panas (temperatur) dan lingkungan yang lembab (ACI 318-89:2-2).

Saturday, 1 November 2008

ANALILIS STRUKTUR

EQUILIBRIUM OF STRUCTURES
A structure is considered to be in equilibrium if, initially at rest, it remains at rest when subjected to system of forces and couples. If a structure is in equilibrium, then all its members and parts are also in equilibrium. For a space structure, condition of equilibrium can be express :

S Fx = 0

S Fy = 0

S Fz = 0

S My = 0
S Mz = 0
S Fy = 0
S Mz = 0

r < 3 the structure is statically unstable externally 
r = 3 the structure is statically determinate externally
r > 3 the structure is statically indeterminate externally

STATIC DETERMINACY OF INTERNALLY UNSTABLE STRUCTURES-EQUATIONS OF CONDITION
  • r < 3 + ec the structure is statically unstable externally 
  • r = 3 + ec the structure is statically determinate externally
  • r > 3 + ec the structure is statically determinate externally
  • ec = equation of condition
  • S Mx = 0
  • S = Sigma

For a plane structure, condition of equilibrium can be express :
S Fx = 0
STATIC DETERMINACY, INDETERMINACY, AND INSTABILY
  • An internally stable structure is considered to be statically determinate externally if all its support reaction can be determinate by solving the equations of equilibrium.
  • If a structure is supported by more than three reactions, then all the reactions cannot be determined from the three equations of equilibrium.
  • Such structure are termed statically indeterminate externally.
  • In reactions in excess of those necessary for equilibrium are called external redundants, and the number of external redundants is referred to as the degree of external indeterminacy.
  • If a structure has r reactions (r > 3), the degree of external indeterminacy.
ie = r - 3